« Sepatu yang mengusir sakit lutut | Home | Sepatu »
Kisah Sukses Pembuat Sepatu
Melaju dengan Sepatu
Di rumahnya yang luas di Kampung Dua, Jaka Sampurna, Bekasi, Erry Priyambodo harus menambah empat bangunan tambahan yang ditempelkan
ke rumah utama. Masing-masing bangunan memiliki fungsi sendirisendiri yang luasnya mampu menampung sekitar sepuluhan orang perunit. Bangunan-bangunan itulah yang fungsinya sebagai pabrik sepatu wanita milik Erry yang didirikan sejak tiga tahun lalu (2003). Di pabriknya ini Erry mempekerjakan
35 orang. Agar membuat para pekerjanya nyaman bekerja Erry menyediakan mes karyawan yang letaknya di bangunan tambahan di belakang rumah. “Mereka kebanyakan berasal dari Bandung dan mereka berpengalaman di bidangnya,” tuturnya. Dengan jumlah pekerja sebanyak itu Erry sanggup memproduksi sepatu sebanyak 300-an pasang sehari atau sekitar 7.000 pasang sebulan.
“Sekitar 95% dipasok ke sebuah perusahaan sepatu multinasional,” ia menjelaskan. Jumlah 7.000-an pasang sebulan itu adalah produksi yang rutin ia lakukan. Pada hari-hari seperti lebaran kemarin ia terpaksa harus mempekerjakan karyawan tambahan agar memenuhi pesanan yang meningkat
tajam. Pada bulan itu produksinya mencapai sekitar 10.000-an pasang. Bagi Erry peningkatan jumlah pesanan itu menunjukan kepercayaan yang tinggi baik dari perusahaan sepatu multinasional itu maupun dari pemakai sepatunya. Maklumlah untuk bisa menjadi sub kontraktor perusahaan sepatu tersebut tidaklah mudah. Erry sendiri dulu pernah gulung tikar , Awalnya Coba-coba, hampir menyerah ketika ia mengajukan contoh sepatunya agar bisa menjadi pemasok perusahaan itu. Peluang untuk menjadi subkontraktor tersebut datang dengan tidak sengaja. Pada tahun 2003 lulusan Informatika Komputer Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengajak temannya yang bisa memproduksi sepatu untuk jadi produsen sepatu mandiri. Saat itu sebenarnya ia sudah bekerja di perusahaan multinasional Siemens namun sudah ada keinginan untuk memiliki usaha sendiri. Dari sepatu inilah ia mencobanya dan ia fokuskan untuk memproduksi sepatu wanita. “Saya sengaja memilih sepatu wanita karena bisa diproduksi dengan model yang banyak. Jika seorang perempuan mengenakan
baju merah, misalnya, ia akan mencari sepatu yang warnanya sepandan
dengan warna bajunya. Belum lagi dengan model baju yang dikenakannya,” jelasnya. Untuk memulai usaha ini Erry harus merogoh modal sebesar Rp 20 juta. Sepatu wanita juga bisa dibagi menjadi sepatu kasual dan sepatu fashion. “Saya memilih model fashion karena tuntutan perubahan modelnya,” katanya. Untuk menjaga modelnya ini ia rajin mencari inspirasi baik dari internet maupun mencobanya sendiri. Untuk identitas produksinya Erry memilih merek Eltaft. “Itu akronim dari nama-nama kami, saya (Erry), istri saya (Lita), dan anak saya (Altaft),” ujarnya. Untuk menjual sepatunya ia mendirikan di Bogor. “Sambutannya lumayan meskipun tak luar biasa. Kami bisa menjual sampai 35 pasang sebulan ” katanya. Sepatunya dijual dengan harga antara Rp 60.000
hingga Rp 100.000 sepasang. Namun terus bergantung pada penjualan eceran rupanya ia nilai tak memberikan prospek. Untuk itulah Erry mencari pembeli pasar. Disamping itu, insting berusahanya terus ia asah. Ia juga bergabung dengan komunitas bisnis dan belajar di yang dikelola pengusaha. Suatu ketika ia
bertemu dengan seorang pejabat di perusahaan sepatu multinasional di Jakarta dalam suatu acara. Setelah bertukar kartu nama si pejabat itu menyebutkan bahwa perusahaannya ada sejumlah pemasok independen yang menyuplai sepatu atas nama merek perusahaan itu. Hanya saja, kata dia, seperti ditirukan Erry, dirinya bukan orang yang berwenang merekrut mitra. Pada awalnya peluang itu tak Erry hiraukan. Namun lokasi pabrik itu yang sering ia lewati tatkala berangkat kerja memancingnya untuk coba cobamenawarkan sepatu hasil buatannya. Sampai akhirnya Erry nekat masuk k eperusahaan itu menawarkan untuk jadi supplier. “Mereka meminta saya membuat contoh yang
mereka pesan,” ujarnya. Mereka minta sepatu wanita tanpa hak padahal selama ini Erry hanya memproduksi sepatu berhak tinggi. Erry menyanggupi. Setelah “babak-belur” dan bolak-balik memenuhi permintaan sample yang gonta-ganti model, nyaris-nyaris patah arang, akhirnya Erry bisa menjadi sub-kontraktor. “Mereka langsung memesan 6.000 pasang.” Ini tentu saja membuat Erry kelaba
kan. Kapasitas produksi sepatu di workshop-nya hanya ratusan pasang sepatu sebulan yang dikerjakan oleh tiga orang pekerja. Tak hanya harus menyiapkan modal, ia juga harus mencari pekerja baru agar bisa memenuhi permintaan itu. Untuk tempat produksinya ia alihkan ke Bekasi ke rumah orang tuanya kare
na tak mungkin dilakukan di Bogor. Ini masih harus ditambah dengan membangun ruangan baru untuk proses produksinya. Ia juga mencari mesin pembuat sepatu dan bahan baku lain. Untuk (cetakan sepatu) ia harus membeli ratusan pasang dengan modal sekitar Rp 40jutaan. Total ia membutuhkan
tambahan modal sekitar Rp 100juta untuk memulai pesanan besar itu. Meski pasokan ke perusahaan multinasional itu sistemnya beli putus, uang tak segera diterima ketika sepatu pesanan sudah diserahkan. “Perlu waktu dua bulan untuk mendapatkan uangnya, karena itu perlu modal yang lebih dari satu bulan operasionalnya,” ujarnya. Yang membuat Erry berbunga-bunga, sebelum pesanan pertama terpenuhi perusahaan itu sudah mengajukan pesanan baru. Sejak itulah ia jadi subkontraktor perusahaan tersebut. “Rata-rata pesanannya sebanyak 5.000 pasang hingga 7.000 pasang sebulan dengan harga jual ke
perusahaan itu berkisar antara Rp 25.000 sampai Rp 55.000 sepasang. Jika dirata-ratakan omset per bulan sekitar Rp 240 juta. Namun menurut Erry rata-rata per bulan pendapat annya berkisar antara Rp 100 juta hingga Rp 150 juta. Berarti dalam setahun omsetnya berkisar antara Rp 1,2 miliar hingga Rp 1,8 miliar Kerjasama dengan mitra besar itu terbilang luar biasa. Erry tak hanya
diberi proyek untuk sekedar memroduksi sepatunya saja, ia juga mengerjakan proses hingga mencantumkan -nya. Praktis perusahaan itu hanya tinggal mendistribusikannya. Menurut Erry produk sepatunya tak hanya ditujukan untuk pasar lokal.Dari sepengetahuannya beberapa kali pihak perusahaan itu memberikan order untuk tujuan ekspor. “Produk sepatu saya diminta diberikan
bandrol harga dengan menggunakan baht (mata uang Thailand) yang berarti untuk memenuhi pasar Thailand,” ujarnya. Selain Negeri Gajah Putih itu negara tujuan ekspor lain sepatunya adalah India. Menurutnya, tak baik jika usahanya
hanya bergantung pada satu pihak. Karena itu ia menjajagi untuk bisa memasok ke perusahaan lain. Langkah berikutnya adalah membesarkan nama Eltaft. Saat ini jumlah produksi sepatunya yang dijual dengan nama Eltaft masih sedikit,
sekitar 300 pasang sebulan yang ia jual dengan kisaran harga antara Rp 60.000 hingga Rp 100.000 sepasang. Pendapatan dari eceran ini tak signifikan jika dibanding dengan pemasukan dari perusahaan tadi. Namun ia yakin jika ditekuni terus lama kelamaan pasar Eltaft akan besar juga. Untuk itu ia terus berusaha memperkenalkan Eltaft. Ia membuat model Eltaft berbeda dengan yang dijual ke perusahaan multinasional tadi. Ia juga mengembangkan jaringan pemasarannya. Sekarang agen Eltaft sudah berada di berbagai kota di Indonesia seperti di Lombok, Denpasar, Yogyakarta, Medan dan Menado. Model, kata Erry, merupakan tantangan paling menarik dari industri sepatu wanita ini. Eltaft saat ini dijual dengan jumlah model sebanyak 20-an dengan sasaran pemakai kelas menengah atas. Ini berbeda dengan sepatu yang ia pasok ke perusahaanmultinasional tadi yang ditujukan untuk kelas menengah bawah. Erry terus mencari inovasi untuk menciptakan model-model baru dari berba-gai sumber agar bisa menjaga pasar.
Sepatu Kulit Indonesia Bisa ke Eropa
Indonesia berpeluang besar menguasai pasar sepatu kulit dan fashion di Uni Eropa dibandingkan Vietnam dan China, karena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik serta sumber bahan baku
kulit yang terbaik. Hal itu dikemukakan Konsultan sepatu internasional, Peter Kern di Jakarta, Kamis, pada pemaparan mengenai rencana pameran sepatu
dunia atau . “Jangan lagi produksi sepatu murah, karena Indonesia tidak akan bisa bersaing dengan China. Tapi produksilah sepatu kulit, Indonesia memiliki
bahan baku kulit terbaik,” ujarnya. Kern mengatakan perkembangan di Uni Eropa saat ini sejumlah produsen sepatu kulit dan fashion di Spanyol, Italia, dan Portugal, banyak yang tutup karena upah pekerja yang terus meningkat.
Hal itu, kata dia, menjadi peluang bagi Indonesia untuk meraih pasar sepatu fashion di Uni Eropa yang total konsumsi pada 2005 berdasarkan sata Eurostat mencapai sekitar 2,35 miliar pasang sepatu. Apalagi, kata dia, saat ini pesaing
utama Indonesia yaitu China dan Vietnam terkena peraturan sepatu dari Uni Eropa yang berlaku dua tahun sejak Oktober 2006. “Pengusaha Indonesia harus bergeanti dumping Global Shoes & Accessories yang akan dilaksanakan di Dusseldorf, Jerman, pada 14-16 september “Jangan lagi produksi sepatu murah,
karena Indonesia tidak akan bisa bersaing dengan China. Tapi produksilah sepatu kulit, Indonesia memiliki bahan baku kulit terbaik,” ujarnya. Kern mengatakan perkembangan di Uni Eropa saat ini sejumlah produsen sepatu kulit dan fashion di Spanyol, Italia, dan Portugal, banyak yang tutup karena upah pekerja yang terus meningkat. Hal itu, kata dia, menjadi peluang bagi Indonesia untuk meraih pasar sepatu fashion di Uni Eropa yang total konsumsi pada 2005 berdasarkan sata Eurostat mencapai sekitar 2,35 miliar pasang sepatu.rak cepat memanfaatkan momentum tersebut. Agar produsen sepatu Uni Eropa mengetahui kemampuan produsen sepatu di Indonesia, maka para pengusaha di Indonesia harus berani investasi mengikuti pameran berskala internasional,” katanya. Kern juga mengingatkan produsen sepatu di Indonesia agar fokus dan
menjadi spesialis produsen sepatu tertentu, misalnya untuk wanita saja, atau laki-laki saja, atau anak kecil. “Jangan menjual sepatu dengan cakupan (segmen) yang begitu luas, tapi ambil satu yang sangat yakin kualitasnya mampu bersaing,” ujarnya. Ia juga berpesan produsen sepatu Indonesia jangan seperti
produsen sepatu China dan Vietnam yang banyak mencontek desain sepatu merek terkenal, tapi buat desain sesuai selera pasar yang memiliki ciri khas Indonesia. Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jawa Timur (Jatim) Sutan RP Siregar mengatakan pihaknya sendiri
mengharapkan ekspor sepatu nonsport atau sepatu kulit dan fashion tumbuh lebih pesat dibandingkan ekspor sepatu olahraga (sport) yang selama ini mendominasi sekitar 70 ekspor sepatu Indonesia. “Kami mengharapkan setidaknya kelak komposisi ekspor sepatu olah raga dan non olahraga berkisar
60:40, karena harga sepatu fashion lebih tinggi bisa mencapai 100 US$
per pasang, sedangkan sepatu olah raga hanya sekitar 20 US$ per pasang,” ujarnya. “Untuk itu, pemerintah perlu memberi dukungan dengan melarang ekspor kulit mentah dari Indonesia atau meningkatan pajak ekspor (PE) kulit mentah, sehingga diolah di dalam negeri untuk menjadi bahan baku kulit sepatu.” Hanya dengan cara itu, katanya, industri sepatu kulit di Indonesia bisa
tumbuh dan bersaing, karena dari sisi kemampuan dan ketrampilan maupun
pengalaman produsen sepatu kulit Indonesia lebih baik dibandingkan pesaingnya. Saat ini berdasarkan data Aprisindo, pabrikan besar sepatu kulit atau non sport hanya 12 perusahaan yang 8 di antaranya berada di Jawa Barat dan empat berada di Jawa Timur. Pada tahun 2006 ekspor sepatu Indonesia
sekitar 1,6 miliar US$ atau hanya menguasai 3 % pasar dunia. Jumlah tersebut sekitar 70 %, baik dari segi jumlah dan nilai, dikuasai sepatu olah raga, sedangkan sisanya baru sepatu non sport. Pengusaha sepatu fashion nasional
Yongki Komaladi mengatakan untuk meningkatkan ekspor sepatu fashion
Indonesia, produsen sepatu Indonesia harus banyak belajar mengenai
desain dan tren serta selera konsumen. “Namun demikian tetap mempunyai ciri khas tanpa mengikuti desain orang lain.”
Untuk Tangkap Pasar Eropa Produsen Taiwan Buka Pabrik di Indonesia
Satu lagi perusahaan sepatu dari luar negeri yaitu Taiwan akan merealisasikan
investasinya senilai 100 juta pada 2007 untuk membangun pabrik sepatu olah raga di Indonesia menyusul penerapan bea masuk (BM) anti dumping sepatu dari Uni Eropa terhadap produksi sepatu China dan Vietnam yang berlaku dua
tahun sejak Oktober 2006. US$ Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jawa Timur, Sutan RP Siregar. Perusahaan sepatu asal Taiwan tersebut, kata dia, akan membangun pabrik di Jawa Timur, melalui kerjasama dengan pengusaha lokal. Menurut dia, pabrik sepatu yang ditargetkan berdiri pada semester kedua tahun ini itu akan digenjot berproduksi
sebesar satu juta pasang sepatu per bulan untuk memenuhi pesanan sekitar 20 juta per bulan. “Perusahaan Taiwan itu melakukan relokasi dari Vietnam dan China,,” ujarnya. Pemilihan Indonesia sebagai lokasi investasi sepatu saat ini
tidak hanya karena adanya peraturan anti dumping dari Uni Eropa (UE) terhadap dua negara pesaing Indonesia yaitu Vietnam dan China. Produksi sepatu China dan Vietnam sering bermasalah, seperti bau dan terlambat pengirimannya,” ujar Sutan. Relokasi perusahaan sepatu dari luar negeri ke Indonesia yang terjadi sejak tahun lalu itu, memberikan optimisme “Produksi sepatu dari Indonesia relatif lebih bagus kualitasnya serta memiliki ketetapan pengiriman yang lebih baik dibandingkan pesaingnya. Aprisindo bahwa ekspor sepatu Indonesia yang memang didominasi sepatu olah raga akan meningkat
sekitar 15 % pada 2007. “Ekspor sepatu nasional tahun ini akan naik sekitar 15 % dibandingkan tahun 2006 yang mencapai sekitar 1,6 juta US$,” ujarnya. Sampai saat ini ekspor sepatu Indonesia sekitar 70 % baik secara jumlah maupun nilai didihasilkan dari sepatu olah raga, sedangkan sisanya baru sepatu non-sport atau sepatu fashion berbasis kulit. Saat ini pangsa pasar sepatu Indonesia
di dunia hanya 3 %, jauh dibandingkan China yang mencapai 69 %
Stabil, Ekspor Sepatu Etnis Bali ke Eropa
Perdagangan sepatu antik produksi Bali ke pasaran ekspor cukup stabil, karena perajin mampu membuat matadagangan itu dengan rancang bangun (desain)
sesuai selera pasar dan harganya terjangkau. Perolehan devisa dari ekspor sepatu antik kuartal I-2007 mencapai US$4,2 juta, naik 1,2 % dari periode sama
tahun sebelumnya yang juga hampir US$4,2 juta, kata Kasubdin Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Bali, Ni Wayan Kusumawathi di Denpasar, Kamis.
Kondisi ekonomi yang tetap baik di negara Uni Eropa, membuat pesanan yang masuk ke tangan perajin di daerah ini cukup stabil, dan kondisi itu berpengaruh
besar terhadap realisasi perdagangannya ke luar negeri. Konsumen Eropa terutama asal Italia, menyenangi sepatu kain dengan variasi manik-manik (monte), sepatu anyaman daun lontar maupun sendal dari pelepah pisang buatan perajin Desa Sukawati, Gianyar, yang mendapat pesanan cukup banyak.
Perdagangan sepatu antik dan sejenisnya sangat tergantung pada situasi pasar, tutur Putu Sudarmi, pengusaha garmen yang juga memproduksi sepatu kain
variasi manik-manik dengan negara pemasaran utamanya ke AS, Jepang dan Eropa. “Pasar memang menginginkan jenis mata dagangan yang aneh-aneh,” kata dia lagi sambil memperlihatkan sejumlah contoh sendal yang dibuat dari pelepah pisang dan daun lontar yang pesanannya banyak banyak dari Italia.
Wisatawan Korea Selatan, Taiwan dan Jepang yang banyak berlibur ke Bali, juga menyenangi sepatu jenis antik. Disamping untuk dipakai sendiri, juga dimanfaatkan sebagai barang cenderamata untuk teman-temannya. Tidak saja orang asing yang sedang berlibur di Pulau Dewata yang memburu sendal atau sepatu jenis antik ke toko-toko seni di Bali, tetapi juga wisatawan nusantara
terutama anak-anak muda putri dari Jakarta, Bandung maupun kota-kota besar lainnya. Anak-anak muda, seusia mahasiswa yang datang dari kota-kota besar di Jawa dan Sumatera, banyak yang membeli sendal atau sepatu jenis antik rata-rata Rp30.000/pasang sebagai souvenir bagi temannya, tutur pedagang itu.
sumber : www.kukmindag-bandung.com
Free Web Directory, CisCb.Com | Free and SEO Friendly Web Directory

Terima Kasih